Tampilkan postingan dengan label MikroTIK. Tampilkan semua postingan

OSPF MikroTIK

 Open Shortest Path First (OSPF)

OSPF merupakan Interior Gateway Protocol (IGP) yang digunakan untuk menyebarkan informasi routing pada router-router yang berada dalam satu Autonomous System (AS). OSPF merupakan routing protocol kategori link state yang bekerja dengan membuat database jaringan yang akan menghasilkan topologi lengkap dari jaringan tersebut. Ini menyebabkan router-router yang menjalankan OSPF mempunyai pengetahuan yang lengkap tentang topologi jaringan.
OSPF menggunakan cost sebagai metric, dimana untuk mencapai suatu network tujuan OSPF akan menggunakan path dengan cost terendah. Secara default cost akan ditentukan oleh bandwidth dari link tersebut.
OSPF mempunyai banyak kelebihan dengan routing protocol lain, seperti RIP. Ini karena OSPF memiliki topologi yang lengkap tentang jaringan sehingga tidak akan terjadi looping dan waktu convergence jaringan yang sangat cepat. Kondisi convergence yang cepat sangat dibutuhkan jika terjadi perubahan jaringan ataupun saat pertama router dihidupkan.
Kekurangan dari OSPF adalah pemakaian resource (CPU dan memori) yang akan berlebihan dan teknik implementasi yang relatif rumit.

Area Concept

Router yang menjalankan OSPF akan mengambil informasi tentang link yang dimilikinya. Untuk kemudian membuat Link State Advertisements (LSA). LSA tersebut akan dikirimkan ke seluruh router dalam jaringan. Dan router-router yang menerima LSA tadi akan meneruskan ke router yang lain. Selain meneruskan LSA yang diterimanya, setiap router juga akan membuat LSA sendiri. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya LSA Flooding yang akan menurunkan performa jaringan.
 Kumpulan LSA yang diterima setiap router akan digunakan oleh router tersebut untuk membuat Link State Database. Link State Database akan menghitung cost-cost yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Dari pengolahan Link State Database inilah yang akan menghasilkan tabel routing.
Untuk mengatasi flooding LSA yang berlebihan, maka implementasi OSPF kadang dibuat menjadi beberapa area. Sehingga penerapan OSPF dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
  1. Single Area OSPF
  2. Multi Area OSPF
 Dengan membagi topologi jaringan menggunakan beberapa area, maka efek dari flooding LSA dapat dikurangi. Suatu LSA hanya akan dikirimkan dari satu router ke router lain yang berada di satu area. Untuk implementasi, minimal terdapat sebuah area yang dinamakan backbone area. Dan jika terdapat beberapa area, maka area-area yang ada harus terhubung dengan backbone area.
  
 Implementasi Single Area OSPF


 Implementasi Multi Area OSPF

 Basic Configuration

Konfigurasi OSPF dilakukan dengan mengaktifkan interface yang akan digunakan mengirimkan LSA dan meng-advertise network-network yang akan dipublish melalui OSPF.
 

Untuk Router-A konfigurasi yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut :
[admin@Router-A] > routing ospf interface add interface=ether1
[admin@Router-A] > routing ospf network add network=10.10.10.0/24 area=backbone
[admin@Router-A] > routing ospf network add network=192.168.10.0/24         \ area=backbone         
[admin@Router-A] > routing ospf network print
Flags: X – disabled, I – invalid
 #   NETWORK            AREA                                                                         
 0   10.10.10.0/24      backbone                                                                     
 1   192.168.10.0/24    backbone

Untuk Router-B adalah sebagai berikut :
[admin@Router-B] > routing ospf interface add interface=ether1
[admin@Router-B] > routing ospf network add network=10.10.10.0/24 area=backbone
[admin@Router-B] > routing ospf network add network=192.168.20.0/24 area=backbone        
[admin@Router-B] > routing ospf network print
Flags: X – disabled, I – invalid
 #   NETWORK            AREA                                                                             
 0   10.10.10.0/24      backbone                                                                         
 1   192.168.20.0/24    backbone                                                   

Untuk melihat tabel routing setelah konfigurasi OSPF dilakukan, dapat digunakan perintah sebagai berikut :
[admin@Router-A] > ip route print
Flags: X – disabled, A – active, D – dynamic,
C – connect, S – static, r – rip, b – bgp, o – ospf, m – mme,
B – blackhole, U – unreachable, P – prohibit
 #      DST-ADDRESS        PREF-SRC        GATEW  GATEWAY               DISTANCE INTERFACE    
 0 ADC  10.10.10.0/24      10.10.10.1                                                                  0        ether1       
 1 ADC  192.168.10.0/24    192.168.10.1                                                            0        ether2       
 2 ADo  192.168.20.0/24                        reachable     10.10.10.2                  110      ether1       

[admin@Router-B] > ip route print                                                
Flags: X – disabled, A – active, D – dynamic,
C – connect, S – static, r – rip, b – bgp, o – ospf, m – mme,
B – blackhole, U – unreachable, P – prohibit
 #      DST-ADDRESS        PREF-SRC        GATEW GATEWAY                 DISTANCE INTERFACE      
 0 ADC  10.10.10.0/24      10.10.10.2                                                                  0        ether1         
 1 ADo  192.168.10.0/24                         reachable     10.10.10.1                    110      ether1         
 2 ADC  192.168.20.0/24    192.168.20.1                                                           0        ether2         
Untuk melihat neighbour dari masing-masing router dapat digunakan perintah sebagai berikut :
 [admin@Router-A] > routing ospf neighbor print
 0 router-id=10.10.10.2 address=10.10.10.2 interface=ether1 priority=1 dr-address=10.10.10.2
   backup-dr-address=10.10.10.1 state=”Full” state-changes=4 ls-retransmits=0 ls-requests=0
   db-summaries=0 adjacency=2m24s
Jika diinginkan penggunaan authentication (misalnya dengan enkripsi MD5) antar router, maka dapat digunakan perintah sebagai berikut :
[admin@Router-A] > routing ospf interface add interface=ether1 authentication=md5 authentication-key=123456
[admin@Router-A] > routing ospf interface print                                                            
Flags: X – disabled, I – inactive, D – dynamic, P – passive
 #    INTERFACE      COST  PRIORITY NETWORK-TYPE   AUTHENTICA AUTHENTICATION-KEY
 0    ether1                                 10    1        broadcast                     md5            123456        

[admin@Router-B] > routing ospf interface add interface=ether1 authentication=md5 authentication-key=123456
[admin@Router-B] > routing ospf interface print
Flags: X – disabled, I – inactive, D – dynamic, P – passive
 #    INTERFACE       COST  PRIORITY NETWORK-TYPE   AUTHENTICA AUTHENTICATION-KEY
 0    ether1                                10    1        broadcast                      md5            123456           
Minggu, 23 Maret 2014
Posted by Andi Kurniawan

Simple Queue, Memisah Bandwidth Lokal dan Internasional

Pada artikel ini, kami mengasumsikan bahwa:
  1. Router Mikrotik melakukan Masquerading / src-nat untuk client. Client menggunakan IP privat.
  2. Gateway yang digunakan hanya satu, baik untuk trafik internasional maupun IIX.
  3. Anda bisa menggunakan web-proxy internal ataupun tanpa web-proxy. Jika Anda menggunakan web-proxy, maka ada beberapa tambahan rule yang perlu dilakukan. Perhatikan bagian NAT dan MANGLE pada contoh di bawah ini.
Jika ada parameter di atas yang berbeda dengan kondisi Anda di lapangan, maka konfigurasi yang ada di artikel ini harus Anda modifikasi sesuai dengan konfigurasi network Anda. Pengaturan Dasar

Berikut ini adalah diagram network dan asumsi IP Address yang akan digunakan dalam contoh ini.

Untuk mempermudah pemberian contoh, kami mengupdate nama masing-masing interface sesuai dengan tugasnya masing-masing.

[admin@MikroTik] > /interface prFlags: X - disabled, D - dynamic, R - running#    NAME            TYPE   RX-RATE  TX-RATE  MTU 0  R ether-public     ether  0        0       15001  R ether-local      ether  0        0       1500

Untuk klien, akan menggunakan blok IP 192.168.0.0/24, dan IP Address 192.168.0.1 difungsikan sebagai gateway dan dipasang pada router, interface ether-local. Klien dapat menggunakan IP Address 192.168.0-2 hingga 192.168.0.254 dengan subnet mask 255.255.255.0.

[admin@MikroTik] > /ip ad prFlags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic # ADDRESS         NETWORK     BROADCAST     INTERFACE0 202.0.0.1/24    202.0.0.0   202.0.0.255   ether-public   1 192.168.0.1/24  192.168.0.0 192.168.0.255 ether-local 

Jangan lupa melakukan konfigurasi DNS server pada router, dan mengaktifkan fitur "allow remote request".
Karena klien menggunakan IP private, maka kita harus melakukan fungsi src-nat seperti contoh berikut.

[admin@MikroTik] > /ip fi nat prFlags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic 0   chain=srcnat out-interface=ether-public      action=masquerade

Jika Anda menggunakan web-proxy transparan, Anda perlu menambahkan rule nat redirect, seperti terlihat pada contoh di bawah ini (rule tambahan yang tercetak tebal).

[admin@MikroTik] > /ip fi nat prFlags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic0  chain=srcnat out-interface=ether-public    action=masquerade1  chain=dstnat in-interface=ether-local protocol=tcp    dst-port=80 action=redirect to-ports=8080

Jangan lupa mengaktifkan fitur web-proxy, dan men-set port layanan web-proxynya, dan disesuaikan dengan port redirect pada contoh di atas.
CEK: Pastikan semua konfigurasi telah berfungsi baik. Lakukanlah ping (baik dari router maupun dari klien) ke luar network Anda secara bergantian.

Pengaturan IP Address List
Mulai Mikrotik RouterOS versi 2.9, dikenal dengan fitur yang disebut IP Address List. Fitur ini adalah pengelompokan IP Address tertentu dan setiap IP Address tersebut bisa kita namai. Kelompok ini bisa digunakan sebagai parameter dalam mangle, firewall filter, nat, ataupun queue.
Mikrotik Indonesia telah menyediakan daftar IP Address yang diadvertise di OpenIXP dan IIX, yang bisa didownload dengan bebas di URL: http://www.mikrotik.co.id/getfile.php?nf=nice.rsc
File nice.rsc ini dibuat secara otomatis di server Mikrotik Indonesia setiap jam, dan merupakan data yang telah dioptimalkan untuk menghilangkan duplikasi entri dan tumpang tindih subnet. Saat ini jumlah baris pada script tersebut berkisar 7000 baris.
Contoh isi file nice.rsc :

# Script created by: Valens Riyadi @ www.mikrotik.co.id# Generated at 26 April 2007 05:30:02 WIB ... 431 lines/ip firewall address-listadd list=nice address="1.2.3.4"rem [find list=nice]add list=nice address="125.162.0.0/16"add list=nice address="125.163.0.0/16"add list=nice address="152.118.0.0/16"add list=nice address="125.160.0.0/16"add list=nice address="125.161.0.0/16"add list=nice address="125.164.0.0/16"..dst...

Proses pengambilan file nice.rsc bisa dilakukan langsung dari terminal di RouterOS dengan perintah:

/tool fetch address=ixp.mikrotik.co.id src-path=/download/nice.rsc mode=http;

Kemudian, import-lah file tersebut.

[admin@MikroTik] > import nice.rscOpening script file nice.rscScript file loaded and executed successfully

Pastikan bahwa proses import telah berlangsung dengan sukses, dengan mengecek Address-List pada Menu IP - Firewall
Proses upload ini dapat juga dilakukan secara otomatis jika Anda memiliki pengetahuan scripting. Misalnya Anda membuat shell script pada Linux untuk melakukan download secara otomatis dan mengupload file secara otomatis setiap pk 06.00 pagi. Kemudian Anda tinggal membuat scheduler pada router untuk melakukan import file.
Jika Anda menggunakan RouterOS versi 3.x, proses update juga dapat dilakukan secara otomatis.
Perintah yang perlu dibuat adalah :

/system sched add comment=”update-nice” disabled=no interval=1d name=”update-nice-rsc” on-event=”:if ([:len [/file find name=nice.rsc]] > 0) do={/file remove nice.rsc }; /tool fetch address=ixp.mikrotik.co.id src-path=/download/nice.rsc mode=http;/import nice.rsc” start-date=jan/01/1970 start-time=06:00:00
Hati-hati! : Setelah copy paste, pastikan hasil copy paste sama persis. Proses copy paste kadang-kadang menghilangkan beberapa karakter tertentu.

Pengaturan Mangle
Langkah selanjutnya adalah membuat mangle. Kita perlu membuat 1 buah connection mark dan 2 buah packet mark, masing-masing untuk trafik internasional dan lokal.

[admin@MikroTik] > /ip firewall mangle prFlags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic0 chain=prerouting in-interface=ether-local   dst-address-list=nice   action=mark-connection new-connection-mark=conn-iix   passthrough=yes1 chain=prerouting connection-mark=conn-iix   action=mark-packet new-packet-mark=packet-iix   passthrough=no2 chain=prerouting action=mark-packet   new-packet-mark=packet-intl passthrough=no  

Untuk rule #0, pastikanlah bahwa Anda memilih interface yang mengarah ke client. Untuk chain, kita menggunakan prerouting, dan untuk kedua packet-mark, kita menggunakan passthrough=no.
Jika Anda menggunakan web-proxy internal dan melakukan redirecting trafic, maka Anda membuat 2 buah rule tambahan seperti contoh di bawah ini (rule tambahan yang tercetak tebal).

[admin@MikroTik] > /ip firewall mangle prFlags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic0 chain=prerouting in-interface=ether-local   dst-address-list=nice   action=mark-connection new-connection-mark=conn-iix   passthrough=yes1 chain=prerouting connection-mark=conn-iix   action=mark-packet new-packet-mark=packet-iix   passthrough=no2 chain=output connection-mark=conn-iix   action=mark-packet new-packet-mark=packet-iix   passthrough=no3 chain=prerouting action=mark-packet   new-packet-mark=packet-intl passthrough=no4 chain=output action=mark-packet   new-packet-mark=packet-intl passthrough=no


Pengaturan Simple Queue
Untuk setiap client, kita harus membuat 2 buah rule simple queue. Pada contoh berikut ini, kita akan melakukan limitasi untuk IP client 192.168.0.2/32, dan kita akan memberikan limitasi iix (up/down) sebesar 64k/256k, dan untuk internasional sebesar (up/down) 32k/128k.

[admin@MikroTik]> /queue simple prFlags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic0 name="client02-iix" target-addresses=192.168.0.2/32   dst-address=0.0.0.0/0 interface=all parent=none   packet-marks=packet-iix direction=both priority=8   queue=default-small/default-small limit-at=0/0   max-limit=64000/256000 total-queue=default-small 1 name="client02-intl" target-addresses=192.168.0.2/32   dst-address=0.0.0.0/0 interface=all parent=none   packet-marks=packet-intl direction=both priority=8   queue=default-small/default-small limit-at=0/0   max-limit=32000/128000 total-queue=default-small
Rabu, 18 Desember 2013
Posted by Andi Kurniawan

BGP-Peer, Memisahkan Routing dan Bandwidth Management

Dalam artikel ini, akan dibahas cara untuk melakukan BGP-Peer ke BGP Router Mikrotik Indonesia untuk melakukan pemisahan gateway untuk koneksi internet internasional dan OpenIXP (NICE). Setelah pemisahan koneksi ini dilakukan, selanjutnya akan dibuat queue untuk tiap klien, yang bisa membatasi penggunaan untuk bandwidth internasional dan OpenIXP (NICE).

 

Beberapa asumsi yang akan dipakai untuk kasus kali ini adalah :
  1. Router memiliki 3 buah interface, yang masing-masing terhubung ke gateway internasional, gateway OpenIXP (NICE), dan ke network klien.
  2. Untuk koneksi ke OpenIXP (NICE), router milik Anda harus memiliki IP publik.
  3. Untuk klien, akan menggunakan IP private, sehingga akan dilakukan NAT (network address translation)
  4. Mikrotik RouterOS Anda menggunakan versi 2.9.39 atau yang lebih baru, dan mengaktifkan paket routing-test

Jika Anda menghadapi kondisi yang tidak sesuai dengan parameter di atas, harus dilakukan penyesuaian.

PENGATURAN DASAR
Diagram network dan konfigurasi IP Address yang digunakan pada contoh ini adalah seperti gambar berikut ini.

Untuk mempermudah pemberian contoh, kami mengupdate nama masing-masing interface sesuai dengan tugasnya masing-masing.

[admin@MikroTik] > /in prFlags: X - disabled, D - dynamic, R - running #    NAME            TYPE   RX-RATE  TX-RATE  MTU  0  R ether1-intl     ether  0        0        1500 1  R ether2-iix      ether  0        0        1500 2  R ether3-client   ether  0        0        1500

Konfigurasi IP Address sesuai dengan contoh berikut ini. Sesuaikanlah dengan IP Address yang Anda gunakan. Dalam contoh ini, IP Address yang terhubung ke OpenIXP (NICE) menggunakan IP 202.65.113.130/29, terpasang pada interface ether2-iix dan gatewaynya adalah 202.65.113.129. Sedangkan untuk koneksi ke internasional menggunakan IP Address 69.1.1.2/30 pada interface ether1-intl, dengan gateway 69.1.1.1.
Untuk klien, akan menggunakan blok IP 192.168.1.0/24, dan IP Address 192.168.1.1 difungsikan sebagai gateway dan dipasang pada ether3-client. Klien dapat menggunakan IP Address 192.168.1-2 hingga 192.168.1.254 dengan subnet mask 255.255.255.0.

Jangan lupa melakukan konfigurasi DNS server pada router, dan mengaktifkan fitur "allow remote request".
Karena klien menggunakan IP private, maka kita harus melakukan fungsi src-nat untuk kedua jalur gateway.

[admin@MikroTik] > /ip fi nat prFlags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic 0   chain=srcnat out-interface=ether1-intl action=masquerade 1   chain=srcnat out-interface=ether2-iix action=masquerade

CEK: Pastikan semua konfigurasi telah berfungsi baik. Buatlah default route pada router secara bergantian ke IP gateway OpenIXP (NICE) dan internasional. Lakukanlah ping (baik dari router maupun dari klien) ke luar network Anda secara bergantian.

PENGATURAN BGP-PEER
Pertama-tama, pastikan bahwa Anda menggunakan gateway internasional Anda sebagai default route, dalam contoh ini adalah 69.1.1.1. Kemudian Anda perlu membuat sebuah static route ke mesin BGP Mikrotik Indonesia, yaitu IP 202.65.120.250.
Lalu periksalah apakah Anda bisa melakukan ping ke 202.65.120.250. Periksalah juga dengan traceroute dari router, apakah jalur pencapaian ke IP 202.65.120.250 telah melalui jalur koneksi yang diperuntukkan bagi trafik OpenIXP (NICE), dan bukan melalui jalur internasional.

Kemudian, Anda harus mendaftarkan IP Address Anda di website Mikrotik Indonesia untuk mengaktifkan layanan BGP-Peer ini. Aktivasi bisa dilakukan di halaman ini. IP Address yang bisa Anda daftarkan hanyalah IP Address yang bisa di-ping dari mesin kami, dan juga harus sudah diadvertise di OIXP. Aturan selengkapnya mengenai penggunaan layanan ini bisa dibaca di halaman ini. Setelah Anda mendaftarkan IP Address Anda, jika semua syarat sudah terpenuhi, Anda akan diinformasikan bahwa aktivasi layanan BGP-Peer Anda sudah sukses. Selanjutnya Anda bisa melihat status layanan BGP Anda di halaman ini.
BGP Router Mikrotik Indonesia akan menggunakan IP Address 202.65.120.250 dan AS Number 64888, dan Router Anda akan menjadi BGP Peer dengan menggunakan AS Number 64666.
Berikutnya adalah langkah-langkah yang harus Anda lakukan pada router Anda. Pertama-tama Anda harus membuat beberapa prefix-list untuk BGP ini. Untuk prefix yang akan Anda terima, untuk alasan keamanan dan hematnya agregasi routing, maka Anda perlu melakukan setting untuk menerima hanya prefix 8 hingga 24. Prefix 0 sampai 7, dan 25 sampai 32 akan Anda blok. Prefix ini kita berinama prefix-in. Untuk prefix-in yang accept, harap diperhatikan bahwa Anda perlu menentukan gateway untuk informasi routing ini, yaitu IP gateway OpenIXP (NICE) Anda. Dalam contoh ini adalah 202.65.113.129. Gantilah IP ini sesuai dengan gateway OpenIXP (NICE) Anda.
Sedangkan karena sifat BGP-Peer ini hanya Anda menerima informasi routing saja, di mana Anda tidak dapat melakukan advertisement, maka harus dilakukan blok untuk semua prefix yang dikirimkan, dan kita beri nama prefix-out.
Berikut ini adalah konfigurasi prefix list yang telah dibuat.

Tahap selanjutnya adalah konfigurasi BGP instance. Yang perlu di-set di sini hanyalah AS Number Anda, pada kasus ini kita menggunakan AS Number private, yaitu 64666.

Dan langkah terakhir pada konfigurasi BGP ini adalah konfigurasi peer. AS Number BGP Router Mikrotik Indonesia adalah 64888 dan IP Addressnya adalah 202.65.120.250. Karena kita sulit menentukan berapa hop jarak BGP Router Mikrotik Indonesia dengan Router Anda, maka kita melakukan konfigurasi TTL menjadi 255. Jangan lupa mengatur rule prefix-in dan prefix-out sesuai dengan prefix yang telah kita buat sebelumnya.

Setelah langkah ini, seharusnya BGP Router Mikrotik sudah dapat terkoneksi dengan Router Anda. Koneksi ini ditandai dengan status peer yang menjadi "established" dan akan dicantumkan pula jumlah informasi routing yang diterima. Anda juga bisa mengecek status peer ini dari sisi BGP Router Mikrotik Indonesia dengan melihat pada halaman ini.

Cek pula pada bagian IP Route, seharusnya sudah diterima ribuan informasi routing, dan pastikan bahwa gatewaynya sesuai dengan gateway OpenIXP (NICE) Anda, dan berada pada interface yang benar, dalam contoh ini adalah "ether2-iix".

Jika semua sudah berjalan, pastikan bahwa penggunaan 2 buah gateway ini sudah sukses dengan cara melakukan tracerute dari router ataupun dari laptop ke beberapa IP Address baik yang berada di internasional maupun yang berada di jaringan OpenIXP (NICE).

C:>tracert www.yahoo.comTracing route to www.yahoo-ht2.akadns.net [209.131.36.158]over a maximum of 30 hops: 1    



PENGATURAN BANDWIDTH MANAGEMENT

Setelah semua routing dan BGP Peer berjalan dengan baik, yang perlu kita lakukan sekarang adalah mengkonfigurasi bandwidth management. Untuk contoh ini kita akan menggunakan mangle dan queue tree.

Karena network klien menggunakan IP private, maka kita perlu melakukan connection tracking pada mangle. Pastikan bahwa Anda telah mengaktifkan connection tracking pada router Anda.



Untuk masing-masing trafik, lokal dan internasional, kita membuat sebuah rule mangle connection. Dari connection mark tersebut kemudian kita membuat packet-mark untuk masing-masing trafik. 


[admin@MikroTik] > /ip firewall mangle printFlags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic 0   chain=forward out-interface=ether1-intl      src-address=192.168.1.2 action=mark-connection      new-connection-mark=conn-intl     passthrough=yes 1   chain=forward out-interface=ether2-iix      src-address=192.168.1.2 action=mark-connection      new-connection-mark=conn-nice     passthrough=yes 2   chain=forward connection-mark=conn-intl      action=mark-packet      new-packet-mark=packet-intl passthrough=yes 3   chain=forward connection-mark=conn-nice      action=mark-packet new-packet-mark=packet-nice      passthrough=yes
Untuk setiap klien, Anda harus membuat rule seperti di atas, sesuai dengan IP Address yang digunakan oleh klien. Langkah berikutnya adalah membuat queue tree rule. Kita akan membutuhkan 4 buah rule, untuk membedakan upstream / downstream untuk koneksi internasional dan lokal. 
[admin@MikroTik] > queue tree printFlags: X - disabled, I - invalid 0   name="intl-down" parent=ether3-client      packet-mark=packet-intl limit-at=0      queue=default priority=8 max-limit=128000     burst-limit=0 burst-threshold=0 burst-time=0s 1   name="intl-up" parent=ether1-intl      packet-mark=packet-intl limit-at=0      queue=default priority=8 max-limit=32000     burst-limit=0 burst-threshold=0 burst-time=0s 2   name="nice-up" parent=ether2-iix      packet-mark=packet-nice limit-at=0      queue=default priority=8 max-limit=256000     burst-limit=0 burst-threshold=0 burst-time=0s 3   name="nice-down" parent=ether3-client      packet-mark=packet-nice limit-at=0      queue=default priority=8 max-limit=1024000     burst-limit=0 burst-threshold=0 burst-time=0s
Besarnya limit-at / max-limit dan burst bisa Anda sesuaikan dengan layanan yang dibeli oleh klien. Sumber : MikroTIK Indonesia
Posted by Andi Kurniawan

Search

Soal Latihan SMK 2013

Facebook Sisa Terakhir

Popular Post

Counter Visitor

Followers

- Copyright © Sisa Terakhir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -